Benarkah?
![]() |
| Ternyata ada sikap iri yang dibolehkan dalam Islam |
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi laki-laki ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. An Nisa: 32)
Memang benar Allah SWT melarang umatnya untuk merasa iri terhadap segala sesuatu yang Allah karuniakan pada hambaNya. Namun larangan tersebut ternyata tidak menyeluruh, ada pengecualian di dalamnya. Keterangan ini bisa kita temukan dalam sebuah hadis yang diterima dari Ibnu Umar R.A sebagai berikut:
Nabi SAW pernah bersabda : “Tidak boleh seseorang menginginkan apa yang dimiliki orang lain kecuali dalam dua hal; (Pertama) seorang yang diberi oleh Allah kepandaian tentang Al Qur`an maka dia mengimplementasikan (melaksanakan)nya sepanjang hari dan malam. Dan seorang yang diberi oleh Allah kekayaan harta maka dia infaqkan sepanjang hari dan malam.” (Muttafaqun `Alaih).
Jadi ada dua hal yang jika ada pada diri orang lain, kita boleh merasa iri padanya. Kita boleh menginginkan apa yang dimiliki orang lain dalam hal:
1. Kepandaian akan Al Qur’an yang diamalkan siang dan malam
Jika seseorang diberikan karunia berupa kepandaian akan Al Qur’an kemudian ilmu-ilmu yang diperolehnya dari Al Qur’an diamalkannya sepanjang hidup dari mulai membuka mata hingga menutup mata, maka kita patut iri akan orang tersebut. Mengapa? Karena tentu saja ia kelak akan mereguk kebahagiaan seluas langit dan bumi, kebagiaan abadi yang tiada habisnya.Kalau pun hidupnya di dunia melarat dari segi harta, orang yang mengamalkan Al Qur’an tetap akan mengecap manisnya hidup. Ia akan banyak bersyukur ketimbang kufur. Ia sadar bahwa nikmat Allah yang dianugerahkan pada dirinya begitu besar.
Setiap napas yang bisa ia hela, setiap benda yang bisa ia sentuh, setiap warna yang bisa ia lihat, setiap kata yang bisa ia dengar, setiap rasa yang bisa ia kecap, semuanya merupakan bentuk kasih sayang Allah yang telah menciptakan panca inderanya sempurna beserta fungsinya masing-masing. Maka tak masalah baginya jika ia hanya makan dengan garam. Ia justru bersyukur masih bisa merasakan asinnya garam ketika banyak orang di luar sana yang tengah sakit sehingga lidah terasa pahit.
Orang seperti ini akan menjadi pewaris surga Allah yang penuh dengan berbagai kenikmatan. Maka pantaslah kita iri akan dirinya. Maka sepatutnya kita menginginkan apa yang ada pada dirinya yakni kepandaian akan Al Qur’an beserta istiqomahnya ia dalam pengamalannya.
2. Harta kekayaan yang diinfakkan siang dan malam
Siapa bilang orang Islam harus berpuas diri hidup dalam kemiskinan? Hadis di atas jelas-jelas memperbolehkan orang islam untuk iri pada orang yang memilki kekayaan. Artinya kita boleh menginginkan diri kita menjadi kaya layaknya orang lain.Namun yang sangat perlu diperhatikan adalah hadis tersebut tidak berhenti sampai di sana. Kita harus iri pada orang kaya yang menginfakkan hartanya siang dan malam. Jadi jangan iri pada orang kaya yang menumpuk-numpuk harta dengan serakah. Irilah pada si kaya yang dermawan.
Jika harta dalam genggaman diinfakkan siang dan malam, maka hartanya akan menjadi jalan keselamatan. Sebaliknya, jika harta dalam genggaman hanya dipakai untuk memperturutkan hawa nafsu, maka hartanya akan menjadi jalan kecelakaan. Maka dari itu, jika harta kekayaan sudah ada di tangan kita, berlomba-lombalah untuk menginfakkannya di jalan Allah.
Demikian, semoga tidak puas. Diharapkan kita terus merasa haus akan ilmu beserta pengamalannya. Aamiin.

0 Response to "Ternyata Islam Memperbolehkan Umatnya Untuk Merasa Iri?"
Post a Comment